Seminggu terakhir Kota Kupang berselimutkan mendung. Hujan tak ada henti mendera. Cuaca yang tak menentu, muncul rasa risau di dalam hati sementara tugas menanti. Tapi beruntung, Rabu, 28 Maret 2012, cuaca sangat bersahabat. Dengan langkah mantap, saya pun harus menganjakkan kaki. Tinggalkan Kupang, terbang bersama merpati menuju Bajawa.
Setiba di Eltari, suasana masih tampak lengang. Baik para pengunjung maupun penumpang tidak membludak seperti hari-hari lainnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 09.45. Pesawat berangkat pukul 10.00. Suasana bathin panik karena dejah waktu yang singkat. Saya turun dari taxi dan bergegas menuju loket check in. Setelah selesai mengikuti semua proses administrasi, saya berjalan menuju waiting room. Di ruang tunggu, sausana juga masih lengang. Masih banyak bangku yang masih kosong. Saya melemparkan pandangan ke bandara, pesawat merpati yang menghantar kami ke Bajawa belum jua tiba. Saya pun duduk. Untuk membunuh rasa jenuh, saya pun mengeluarkan notebook dan mengaktifkan internet. Tak lama berselang, merpati mendarat. Sementara saya tetap asyik surfing di dunia maya. Tak jauh dari posisi saya duduk, terdapat gerombolan ibu-ibu yang akan melanjutkan perjalanan tugas.
Setelah setengah jam menunggu, announcher melakukan calling penumpang merpati Kupang-Bajawa segera menuju pesawat. Saya mematikan notebook, lalu melangkah menuju pesawat. Begitupun dengan rombongan ibu-ibu di sebelah saya.
Penerbangan Kupang-Bajawa memakan waktu ± 1 jam. Seperti biasa, saya saya akan selalu mengabdikan setiap moment perjalanan. Handycame/camera tetap digenggam ditangan. Sebisa mungkin setiap momen menarik tak terlewatkan.
Pukul 11.00 lewat merpati mendarat di Turelelo Soa. Saya dan teman seperjalanan turun dan bergegas menuju pintu keluar. Di luar ruang arrival room sudah ditunggu dua orang ibu yang menunggu titipannya dari Kupang. Saya bergerak menuju mereka dan menyerahkan titipannya lalu mencari taxi.
Untuk melanjutkan perjalanan ke Mbay, kami harus estafet sekali. Setiba di Bajawa, kami harus salin taxi Bajawa-Mbay. Kami keluar dari kota Bajawa pukul 13.20. Sepanjang jalan saya aktifkan notebook. Sesekali mengabadikan panorama sepanjang perjalanan. Di sebelah saya, duduk seorang ibu setengah baya.
“Ibu darimana?” Saya membuka percakapan.
“Saya dari Kupang. Saya tugas di Nagekeo mendampingi anggota DPRD Provinsi yang melakukan kunjungan kerja ke wilayah Nagekeo.” Sahut ibu.
“Rencananya mau kunjung ke mana?” Tanya saya penasaran.
“Boawae, pak.” Jawab ibu itu singkat.
“Tempat karantina hewan, dimana ya, pak?” Tanya ibu itu lagi.
“Saya tidak tahu, bu. Saya memang orang sini, tapi sudah lama merantau. Saya kembali ke sini sesekali saja.” Jawab saya.
“O iya, pak, khan jalan-jalan terus.” Tambah ibu tadi.
Saya pun menyahut “iya” tanpa memahami maksudnya.
Sampai di Wolorowa, taxi berhenti sejenak tak jauh dari pancuran. Sopir, saya dan seorang penumpang lainnya turun dari mobil bergegas menuju pancuran. Saya membasuh wajah yang sudah tampak kusut masai. Airnya segar sekali. Kemudian perjalanan pun dilanjutkan. Kami tiba di Mbay pukul 16.00.
Setiba di rumah, seorang bapak yang saya bawa dari Kupang menceritakan pengalaman perjalananan pertamanya ke Flores kali ini. Baginya, perjalanan ini diluar dugaan karena saya ajak secara tiba-tiba. Bapak tadi juga menceritakan tentang percakapannya dengan ibu yang duduk di sebelah saya ketika saya turun di pancuran dekat Wolorowa.
“Pak itu wartawan, ya?” Tanya ibu kepada Bapak tadi.
“Iya, ibu.”Jawab si Bapak singkat.
Saya hanya bisa tertawa lepas. Darimana ibu bisa menilai saya sosok seorang wartawan.
Setelah melakukan rangkain tugas di Mbay dan Mauponggo, saya harus kembali ke Kupang. Karena padatnya penerbangan, maka saya memesan tiket pulang hari Senin, 02 April 2012. Pesawat berangkat pukul 10.10. Check in pukul 09.00. Hari itu kami berangkat dari Mbay pukul 07.00. Harapannya kami tiba di Ende pukul 09.00. Adanya perbaikan jalan sepanjang Aegela-Nangaroro dan membludak pedagang, kendaraan, pembeli di pasar Nangapanda merupakan faktor keterlambatan kami tiba di Ende.
Tiba-tiba hp berdering.
“Kami dari Transnusa menginformasikan tidak lama lagi pesawat mau menderat. Pak posisi dimana?” terdengar suara di ujung telepon.
“Saya masih di Nangakeo, Bu.”Jawab saya panik.
Nangakeo-Ende berjarak 15 km – memakan waktu 15-20 menit perjalanan. Saya mulai panik takut ketinggalan pesawat. Sementara jam menunjukkan pukul 09.50. Sopir terus mengeber kendaraannya. Saya tidak henti-hentinya menghubungi agen transnusa untuk meyakinkan bahwa saya dalam perjalanan dan menanyakan informasi pesawat. Rasa gusar sirna, ketika taxi merapat di bandara sedangkan pesawat tumpangan belum juga mendarat. Saya pun mengelus dada lega.
Seperti biasa prosedur penerbangan, check ini, beli airpot tax dan masuk ke ruang tunggu. Tidak lama kemudian, sirene berbunyi panjang pertanda pesawat akan mendarat. Saya pun duduk sesekali bergaya di depan lensa.
Dalam perjalanan ke pesawat, seorang ibu mendekat lalu bertanya, “Adik pernah di Yogya, ya?”
“Iya, Ibu.” Jawab saya singkat. Pikiranku penasaran dengan ibu ini. Sepertinya dia mengenal saya dengan baik.
“Aduh bu, mungkin saya lupa. Ibu pernah di Yogja juga?” Saya berusaha menetralkan rasa penasaran.
“Ei..adik pasti sudah lupa e.” Ibu itu menyorong tangan memperkenalkan diri.
Setelah ibu tadi menyebutkan nama dan namanya suaminya, pikiran saya semakin dekat pada kebenaran pada apa yang saya duga sebelumnya. Tidak sungkan, saya pun menyapanya dengan sebutan “kaka”.
“Kaka sekarang kerja dimana?”
“Saya di DPRD Ende.”
“Barti anggota dewan, dong?”
“Iya. Saya sudah lima tahun di Ende.”
Percakapan pun berlanjut hingga di pesawat. Nostalgia tentang Yogja menjadi menu utama perjumpaan itu. Tiba-tiba seniorku bertanya lagi.
“Adik, wartawan di media mana sekarang?”
Saya agak terkejut dengan pertanyaan. Artinya sudah ada dua orang yang bertanya hal yang sama dalam perjalanan saya kali ini.
“Aduh, kaka saya bukan wartawan. Apakah mungkin potongan saya ini wartawan?”
“He…dulu sering liput di Yogya, khan?”
Saya semakin bingung. Kenyataan saya bukan wartawan. Tapi, dalam hati saya berkata, “Iya, saya wartawan dari media babomoggi.com.” Hehehe…..(saya tertawa dalam bathin). Kemudian saya menjelaskan posisi saya yang sebenarnya. Percakapan berujung pada ranah politik. Lumayan juga mendapat pencerahan politik dari seorang kader partai politik besar. ***
Recent Comments