April 14, 2012 | In: Cinta

Ine, Bulan itu adalah Kau *)

Kupetik bulan
Kuberikan untukmu
Aku tahu itu tidak mungkin
Karena tanganku tak mampu meraih
Dan, bulan itu terlalu tinggi menggelantung di langit
Kupetik bulan
Kuberikan untukmu
Aku tahu itu tidak mungkin
Tapi dengan segenap mahadaya cintaku
Aku pun mampu melakukannya
Lalu, memberi bulan yang kugenggam ini

Kupetik bulan
Kuberikan untukmu
Karena di dalam bulan tergambar rupamu
Sri Dewi yang memancarkan cinta yang tak berkesudahan
Cahaya yang abadi yang tak pernah pudar

Kupetik bulan
Kuberikan untukmu
Karena bulan itu aku berbalik
Setelah aku terjebak dalam persimpangan hidup
Lalu, Kau terangi dan tuntun langkah ini

Kupetik bulan
Karena bulan itu adalah Kau
Mahadewi cinta yang setia mendampingi
Melewati arus, badai dan tsunami hidup ini

Kupang, 13 April 2012

*) Puisi ini kupersembahkan bagi istri tercinta, sang maha dewi cinta, di saat ulang tahunku ini. Di dalam kesetiaan, mendampingi sepanjang pertualanganku di bumi ini. Suka-duka lalui bersama menuju kebahagiaan hidup. Aral terjal menghambat, menjadikan onak yang melukai cinta. Tapi, kesetiaan melampui segala-galanya. Terimakasih cinta...!

April 14, 2012 | In: Cinta

Ibu

KAU adalah bumi
Putramu dikandung,
dilahirkan, dan
berpijak
KAU adalah bulan
Bercahaya menyingkap gelap gulita hidup,
menuntun langkah kaki, dan
mengusir kelam kehidupan yang mendekat
KAU adalah matahari
Yang mendekap hangat hidup,
mengalirkan energi dalam darah, dan
menggelorakan semangat perjuangan buah rahimmu

KAU adalah rubiah
Yang senantiasa menguntai kontas dan berdoa
Sepanjang benih cintamu berjalan
Setiap katamu terucap-bertuah
Terselip doa yang meneguhkan
Bukti cintamu yang tak berkesudahan

Ibu,
Dalam doamu, KAU dekap erat putramu
Kata terima kasihku tak cukup membalas budimu
Doaku selalu mengalir laksana angin yang senantiasa berhembus
Dimana putramu berada, namamu terpancang di dada
Cintamu terpatri di hati sanubari putramu

Kupang, 13 April 2012

*) Kupersembahkan untuk ibunda tercinta di saat hari ulang tahunku ini. Atas nama cinta, kudedikasikan untuknya. Dalam doanya, aku didekapnya erat-erat oleh cintanya yang tidak pernah padam).

  • Comments Off

April 12, 2012 | In: Alam

Tuhan, Ini Pinta Kami *)

Tuhan, Ini Pinta Kami *)
(Untuk Saudaraku di Padang, Aceh dan sekitarnya, kalian raga dari pertiwi ini)

Duhai Tuhan…
Kami tak mau lagi tangis perih
Tatap negeri terkoyak tsunami
Terombang-ambing karena badai
Berikan negeri kami kedamaian

Duhai Tuhan…
Belum pupus di benak kami
Flores,
Aceh,
Padang,
dan Jogjakarta pernah menangis
Karena tsunami datang mencabik-cabik
Kini derita datang lagi
Prahara melanda negeri
Jiwa kami pedih-perih

Duhai Tuhan…
Tenaga kami tak sekuat tsunami
Raga kami tak setegar badai
Hanya IMAN yang menguatkan kami
Engkau pasti datang mendekati dan melindungi
Berikan negeri kami kedamaian

Wahai saudaraku seluruh negeri
Bersatu hati peduli
Demi saudara kita yang menjerit di belahan lain di negeri ini
Aceh dan Padang, bagian dari raga pertiwi

Kupang, 12 April 2012

*) Moral force untuk saudaraku di Padang dan Aceh yang dilanda bencana. Semoga dengan iman mereka, mereka diteguhkan dalam menghadapi ujian alam ini.

YESUS
Kami lelah melangkah
Dari satu titik perhentian hidup ke titik perhentian hidup berikut
Peluh mengucur sekucur tubuh kami
Protes mengerucut hujat dari mulut kami
Itulah kami, YESUS

Tapi…,
KAU, YESUS
Tegar melangkah sepanjang Via Dolorosa
Beban salib KAU bawa
Dari satu perhentian ke perhentian berikut
Puncak Golgota KAU gapai

YESUS,
Peluh mengalih deras dari tubuh-Mu
Tubuh-MU penuh bilur lebam
Pedih lirih kami tatap,
Perih sayat hati kami
Demi dosa kami KAU pulih

YESUS,
Darah suci-Mu tetesi bumi
Tempat kami berpijak kini
KAU sucikan, basuhi jiwa dosa kami
Janji-MU KAU penuhi

YESUS,
Cinta dan korban kau ajarkan
Melalui SABDA dan PERBUATAN nyata
Seperti Kau titahkan
“Akulah Jalan Kebenaran dan Hidup”

YESUS,
Bebanmu maha berat KAU bawa hingga puncak Golgota
Tubuh dan Jiwa-MU terkuras
Tiada keluh kesah apalagi minta ampun atau belas kasih dari pengadil
Serdadu-sedadu bengis yang melecut cemeti
Cinta-MU yang tak tergoyahkan dan berkesudahan
Via Dolorosa KAU harus lalui
Jalan menuju Golgota kau tapaki
Tuntaskan janji Allah Bapa
Demi umat-Mu yang KAU kasihi

YESUS,
Tangis Ibu-MU tak berarti
Lucuti pengorban-MU
KAU seakan tak peduli
Bukan karena ego, tapi janji sejati Bapa-MU yang mengutus
Ketika ibu-MU sendu menatap
Malah KAU jawab, “Ibu jangan tangis AKU”

YESUS,
Melalui Via Dolorosa KAU sabdakan
Tiada kebahagian tanpa pengorbanan
Tiada cinta tanpa kesetiaan

YESUS, Cinta-Mu Korban dan Hidup
YESUS, ampunilah dosa Kami!

Kupang, 10 2012

*) Puisi ini terinspirasi berbagai postingan rangkaian kegiatan Pawai Paskah Kota Kupang, 09 April 2012 yang lalu. Sedangkan judul puisi ini terinspirasi dari motto imamat om Rm. Cyrillus Meo Mali, Pr (1983)

Pertengahan tahun 1990 saya berlayar dengan Kapal Ratu Rosari ke Reo. Kapal berlabuh di pelabuhan Kedindi. Dalam perjalanan, saya ditemani oleh Sr. Theresa, muder Biara SSpS Kotabaru Maumere. Setiba di Reo, kami mampir di Biara SSpS Reo. Hari itu juga perjalanan dilanjutkan ke Ruteng. Kami tiba di Ruteng malam  dan menginap di Biara SSpS Ruteng. Keesokan harinya, perjalanan kami dilanjutkan ke St. Damian Cancar. Tujuan kedatangan kami ke Cancar untuk mengikuti program terapi. Rumah Sakit St. Damian Cancar-lah, satu-satunya rumah sakit yang memiliki fasilitas fisioterapi.

Sambil menunggu kelanjutan terapi, Sr. Virgula, pimpinan St. Damian menawarkan saya untuk melanjutkan sekolah. Ada dua pilihan yang harus putuskan. Apakah saya memilih sekolah yang ada di Cancar atau di luar dari Cancar. Sebelum keputusan itu saya sampaikan, tiba-tiba Sr. Virgula, “Kamu sekolah di St. Klaus Kuwu saja. Sekolah di sini kurang bermudu (maksudnya bermutu, tuturnya dalam dialek jerman yang kental). “ Jawab saya, “Baik, Suster.”

Keesokan harinya, Sr. Virgula pun mengantar saya ke St. Klaus Kuwu. Di sana saya, John Ruth (salah satu anak angkat Sr. Virgula) dan suster sendiri menemui Pater Ernest Waser, pemimpin Yayasan St. Klaus Kuwu. Saya dan John didaftarkan di SMP St. Klaus. Saya melanjutkan kelas II SMP, sedangkan John masuk kelas I.

Dari Pater Waser, kami di antar ke sekolah. Di sekolah saya diperkenalkan dengan kepala sekolah saat itu, Sr. Yosefine, anggota biara PRR. Dari mulut ke mulut suster kepala sangat keras dan disiplin. Ia tidak tanggung-tanggung menegur para guru di hadapan para siswa. Oleh suster kepala, saya dimasukan ke kelas IID. Saat itu saya sekelas dengan Valen Gaur, Gusty Iwanti, dkk. Di kelas, saya bukan siswa yang terbilang pintar. Jika dibilang otak pas-pasan. Saya membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk beradaptasi dengan situasi di ruang kelas. Apalagi Pak Herman Jehadut, guru matematika yang berwajah “keram” alias jarang senyum. Yosef Jehanus, guru bahasa inggris yang suka menjewer telinga siswa. Pak Jack, guru Biologi, yang matanya selalu berwarna merah buat nyali siswa kecut. Pak Abdon Mos, guru penjas yang menggertak dengan kepalan tangannya yang berotot. Pak Kundus, guru geografi dengan materi andalannya “peta buta”. Atau Alo Badar, guru Pancasila yang kalau mengajar suaranya menyala-nyala. Dan, masih banyak guru dengan berbagai karakternya masing-masing.

Iklim Kuwu sangat kontras dengan Maumere, dimana SMPK Virgo Fidelis berada. Maumere yang panas, sedangkan Kuwu yang dingin memaksa saya butuh waktu untuk beradaptasi. Penyesuaian tidak berlansung lama. Saya pun bisa melakukan dengan baik. Selain dari itu, saya sudah bisa berinteraksi dengan teman-teman lain. Jika dibandingkan dengan teman-teman lain, saya mendapat perlakuan istimewa oleh Pater Waser. Di asrama saya tinggal seblok dengan teman-teman SMP. Sedangkan makan pagi, siang dan malam, saya bergabung dengan para senior, siswa SMA. Tidak heran, saya memiliki kedekatan emosional dengan para senior. Saya bangga bisa bergabung dengan mereka. Dari semua senior yang terbilang paling dekat adalah abang Micky Dahus dan Ferdy Jebarut. Mereka berdualah sangat peduli dengan saya. Jika saya belum masuk ruang makan, mereka akan menyimpan jatah saya, bahkan mereka membawa ke kamar. Menu makan untuk siswa SMP dan SMA memang agak berbeda, terutama pagi hari. Jika siswa SMP hanya nasi putih plus garam, maka siswa SMA, nasi putih ditemani ikan teri goreng.

Waktu demi waktu berjalan hingga akhirnya saya naik kelas III, gejala terapi tidak diangkat lagi oleh Sr. Virgula. Saya pun asyik dengan dunia baru, lingkungan dan teman-teman baru seolah lupa dengan tujuan awal kedatangan saya di Manggarai. Hingga saya tamat dan meninggalkan Kuwu saya tidak menjalankan program terapi yang dimaksud. ***

Perjalanan tugas ke Labuan Bajo merupakan perjalanan yang paling menghebohkan. Saking hebohnya, tugas utama tidak tampak dalam ekspose di media online. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampau. Demikian pepatah klasik yang menggambar perjalanan tugas saya kali ini. Betapa tidak, di sela kesibukan kegiatan Rakor Pendidikan di Hotel LaPrima Labuanbajo, bersama panitia kami mengunjungi komodo di pulau Rinca di waktu sisa waktu luang.

Labuanbajo merupakan salah satu tourist destinations di wilayah Nusa Tenggara Timur, bahkan di Indonesia. Selain pesona eksotisme komodo, pulau-pulau dengan bibir pantai yang indah, juga memiliki pesona alam bawah laut yang indah. Tidak heran, statistik kunjungan wisatawan baik wisman maupun wisdom meningkat dari tahun ke tahun. Statistik meningkatkan tajam semenjak komodo dikandidatkan sebagai salah satu balon tujuh keajaiban dunia. Bahkan dari cerita penduduk lokal, para artis juga sering menghabiskan waktu liburan di pulau Komodo. Sebut saja, Kaka Slank, vokalis yang suara merdu itu, setahun lalu menutup tahun 2011 di Labuanbajo.

Labuanbajo berbeda dengan Bali ataupun Lombok. Labuanbajo merupakan kota wisata yang sedang beranjak. Hotel-hotel berbintang sudah berdiri megah, seperti Jayakarta Hotel, Bintang Flores dan LaPrima Hotel. Tumbuh kembang hotel berbintang di sana tidak terlebas meningkatnya arus kunjungan wisatawan. Wisatawan membutuhkan layanan super, tidak sekedar untuk menginap, akan tetapi lebih dari itu. Secara kuantitas hotel berbintang masih dapat dihitung dengan jari, tapi area sepanjang bibir pantai sudah dibeli kelak digunakan untuk  membangun hotel, restoran, bar dan lain-lain. Sedangkan hotel-hotel kelas bawah tumbuh subur di sana.

Selain itu, pusat-pusat hiburan pun masih terbatas seperti pub, restauran dan arena permainan lainnya. Jika dibandingkan dengan Bali, Labuanbajo masih terbelakang. Tapi, bicara pesona alamnya, Labuanbajo dapat melampauinya.

Semenjak komodo go international, sebagai salah satu kandidat tujuh keajaiban dunia, komodo menjadi buah bibir baik di dalam negeri maupun luar negeri. Komodo mencuat ke permukaan dengan beragam pendapat atau komentar. Mulai dari yang mendukung, yang meremehkan hingga yang terang-terang menolak komodo masuk dalam poling Tujuh Keajaiban Dunia.  Semenjak itu pula, sebagai warga Nusa Tenggara Timur yang memiliki binatang langkah tersebut, saya pun berminat untuk melihatnya lebih dekat. Secara geografis, Labuanbajo, Pulau Rinca ataupun P. Komodo, dimana populasi komodo berada tidak jauh. Labuanbajo mungkin mudah digapai, tapi tidak demikian dengan pulau Rinca dan pulau Komodo. Selain letak pulau yang jaraknya yang jauh dari Labuanbajo merupakan satu-satu hambatan untuk mengunjungi komodo. Sekalipun demikian, keinginan untuk mengunjung Labuanbajo tetap tersimpan rapih di hati.

Waktu yang Dinantikan Tiba

Kesempatan itu tiba saat Sub Bagian PDE Dinas PPO Provinsi NTT menyelenggarakan Rakor Pendidikan Terpadu di LaPrima Hotel Labuanbajo, tanggal 22-24 Maret 2012. Kegiatan ini diselenggarakan di sana dalam rangka mensukseskan “Sail Komodo 2013”. Sail Komodo 2013 merupakan wujud perhatian pemerintah Nusa Tenggara Timur untuk memperkenalkan komodo secara luas seantero dunia. Komodo merupakan salah satu “komoditas” pariswisata yang senantiasa dipromosikan. Sail Komodo merupakan salah satu alternatif untuk mempromosikan komodo ke dunia internasional.

Kegiatan berlansung selama tiga hari. Hari Sabtu, 25 Maret 2012 vakum, tidak ada kegiatan lagi. Kami panitia melakukan pertualangan ke Pulau Rinca. Rencana ini memang sudah dipersiapkan sebelum kami berangkat ke Labuanbajo. Atas bantuan seorang teman, salah satu pegawai di linkup UPTD Dispenda Provinsi NTT menghubungi perahu motor yang akan menghantar kami ke Pulgau Remaja. Biaya perjalanan sebesar Rp. 2 juta. Itu sudah termasuk makan siang, paket pelayaran dari Labuanbajo ke P. Rinca, P. Kelor dan Pulau Bidadari hingga balik Labuanbajo.

Start Terlambat

Banyak orang menyarankan untuk mengunjungi pulau Rinca sebaiknya berangkat pagi-pagi. Selain mudah menemukan komodo di pulau Rinca, juga tidak melawan arus yang kerap menghambat lajunya perahu motor. Pertualangan kami terbilang telat, start pukul 12.00. Meskipun terlambat, tidak mematahkan semangat dan hasrat kami menggapai pulau Rinca. Persona Labuanbajo, pulau-pulau di sekitarnya, laut biru nan bersih, menjadikan latar yang menarik untuk mengabadikan setiap jengkal pertualangan kami. Kami menghabisi waktu pelayaran lebih kurang 2 jam menuju pulau Rinca. Setiba di pulau Rinca kami memilih track terpendek. Kami tidak sanggup melakukan perjalanan track panjang. Selain waktu sudah terbatas, daya fisik kami yang tidak terbiasa dengan rute-rute yang panjang, apalagi dilakukan dengan jalan kaki. Dari pulau Rinca, kami berbalik arah menuju pulau Kelor. Jarak pulau Rinca-pulau Kelor ditempuh dengan menghabiskan waktu 34-40 menit. Setelah tubuh bermandikan peluh di pulau Rinca, maka di pulau  Kelor merupakan saat yang tepat untuk membasuh peluh yang sudah menebarkan aroma tidak sedap. Kami habiskan waktu 45 menit di Kelor sejenak bermandi ria dengan teman-teman. Pulau kecil dengan bibir pantai pasir putih, memaksakan kami untuk berlama-lama bercumbu dengannya. Waktu jualah yang tidak mampu membendung, kami harus mengayunkan langkah ke titik tujuan berikut. Perahu motor melaju dengan tenang membelah laut biru menuju pulau Bidadari. Pulau ini sempat menjadi polemik di media massa. Adanya indikasi telah dilakukan jual beli kepada pihak asing. Setiba di sana, kami tidak turun dari perahu. Kami hanya berfoto ria tak jauh dari bibir pantai Bidadari. Di tengah pulau tampak homestay. Di antara semak belukar menyembul antena wireless internet.  Perjalanan pun dilanjutkan. Sepanjang perjalanan, kami sepertinya disajikan pemandangan alam yang menakjubkan. Sunset yang indah. Siraman cahaya jingga di langit memberikan nuansa nan indah. Hingga akhinrya kami tiba kembali di pelabuhan Tilong, titik awal keberangkatan kami. Setiba di pelabuhan, kami mampir di pasar ikan guna membelikan ikan cara, oleh-oleh khas Manggarai.

Pemanangan yang Menakjubkan, Menghasilkan Foto-foto yang Menakjubkan Pula

Seperti saya katakan di awal tulisa ini. Perjalanan ini lebih heboh dari perjalanan-perjalanan yang pernah saya lakoni. Setiap jengkal moment di perahu motor, di lautan dan di pulau diabadikan. Latar pemandangan alam yang indah memberikan kesan indah pula pada hasil jepretran. Saya sendiri pun terkejut dengan hasil-hasil foto tersebut. Foto-foto yang bagus saya upload-kan ke facebook. Dengan buasana seadanya, layaknya seperti seorang petualang, saya pun beraksi sepanjang rute pelayaran sehingga menghasilkan karya yang luar biasa. Keindahan alam sungguh mengundang decak kagum saya pun mereka yang menyaksikan foto-foto tersebut.

Dengan mengenakan singlet, bersorbankan sapu tangan dan tak jarang bertelanjang dada menjadi pemandangan khas dalam foto-foto pertualangan kali ini. Momentum yang memberi kesan mendalam juga dirasakan dari foto-foto yang dihasilkan. Luapan emosi kegembiraan pun saya share-kan di facebook. Jujur ada di antara teman yang ‘cemburu’, yang lainnya terinspirasi kelak bisa menggapainya.

Geger pertulangan ke pulau Rinca, Kelor dan Bidadari-lah yang memberikan kesan perjalanan tugas kali ini lebih daripada sekedar jalan-jalan. Sementara tugas utama kami tidak diekspose sedikit pun seolah disembunyikan. Tanpa ada tendensi apapun, berbagai foto yang diupload dimaksudkan untuk mempromosikan Labuanbajo di dunia maya. Harapan saya, tentu saja, setiap orang punya kesempatan yang sama untuk mengunjung ke sana. Juga masih banyak orang yang belum mengenal Labuanbajo dan sekitarnya secara dekat.

Dikirain Guide

Adanya foto-foto saya dengan berbagai style di wall saya, menimbulkan tanda tanya besar banyak orang. Salah seorang teman jejaring sosial mengira saya seorang guide. Dia bekerja di salah satu hotel yang ternama di Labuanbajo. Di dalam komentarnya terhadap gambar yang saya posting, demikian, “Kak, Kalau ada tamu, antar dan nginap di hotel saya kerja, ya?”. Saya pun responnya, “Iya, lain kali saya mampir, adik.” Dia tidak tahu, profesi apa yang sebenarnya. Tetapi itu tidak penting. Perjalanakan saya kali ini benar-benar asyik, menjadikan saya petualang sejati. ***

April 5, 2012 | In: Sharing

Saya Bukan Wartawan

Seminggu terakhir Kota Kupang berselimutkan mendung. Hujan tak ada henti mendera. Cuaca yang tak menentu, muncul rasa risau di dalam hati sementara tugas menanti. Tapi beruntung, Rabu, 28 Maret 2012,  cuaca sangat bersahabat. Dengan langkah mantap, saya pun harus menganjakkan kaki. Tinggalkan Kupang, terbang bersama merpati menuju Bajawa.

Setiba di Eltari, suasana masih tampak lengang. Baik para pengunjung maupun penumpang tidak membludak seperti hari-hari lainnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 09.45. Pesawat berangkat pukul 10.00. Suasana bathin panik karena dejah waktu yang singkat. Saya turun dari taxi dan bergegas menuju loket check in. Setelah selesai mengikuti semua proses administrasi, saya berjalan menuju waiting room. Di ruang tunggu, sausana juga masih lengang. Masih banyak bangku yang masih kosong. Saya melemparkan pandangan ke bandara, pesawat merpati yang menghantar kami ke Bajawa belum jua tiba. Saya pun duduk. Untuk membunuh rasa jenuh, saya pun mengeluarkan notebook dan mengaktifkan internet. Tak lama berselang, merpati mendarat. Sementara saya tetap asyik surfing di dunia maya. Tak jauh dari posisi saya duduk, terdapat gerombolan ibu-ibu yang akan melanjutkan perjalanan tugas.

Setelah setengah jam menunggu, announcher melakukan calling penumpang merpati Kupang-Bajawa segera menuju pesawat. Saya mematikan notebook, lalu melangkah menuju pesawat. Begitupun dengan rombongan ibu-ibu di sebelah saya.

Penerbangan Kupang-Bajawa memakan waktu ± 1 jam. Seperti biasa, saya saya akan selalu mengabdikan setiap moment perjalanan. Handycame/camera tetap digenggam ditangan. Sebisa mungkin setiap momen menarik tak terlewatkan.

Pukul 11.00 lewat merpati mendarat di Turelelo Soa. Saya dan teman seperjalanan turun dan bergegas menuju pintu keluar. Di luar ruang arrival room sudah ditunggu dua orang ibu yang menunggu titipannya dari Kupang. Saya bergerak menuju mereka dan menyerahkan titipannya lalu mencari taxi.

Untuk melanjutkan perjalanan ke Mbay, kami harus estafet sekali. Setiba di Bajawa, kami harus salin taxi Bajawa-Mbay. Kami keluar dari kota Bajawa pukul 13.20. Sepanjang jalan saya aktifkan notebook. Sesekali mengabadikan panorama sepanjang perjalanan. Di sebelah saya, duduk seorang ibu setengah baya.

“Ibu darimana?” Saya membuka percakapan.

“Saya dari Kupang. Saya tugas di Nagekeo mendampingi anggota DPRD Provinsi yang melakukan kunjungan kerja ke wilayah Nagekeo.” Sahut ibu.

“Rencananya mau kunjung ke mana?” Tanya saya penasaran.

“Boawae, pak.” Jawab ibu itu singkat.

“Tempat karantina hewan, dimana ya, pak?” Tanya ibu itu lagi.

“Saya tidak tahu, bu. Saya memang orang sini, tapi sudah lama merantau. Saya kembali ke sini sesekali saja.” Jawab saya.

“O iya, pak, khan jalan-jalan terus.” Tambah ibu tadi.

Saya pun menyahut “iya” tanpa memahami maksudnya.

Sampai di Wolorowa, taxi berhenti sejenak tak jauh dari pancuran. Sopir, saya dan seorang penumpang lainnya turun dari mobil bergegas menuju pancuran. Saya membasuh wajah yang sudah tampak kusut masai. Airnya segar sekali. Kemudian perjalanan pun dilanjutkan. Kami tiba di Mbay pukul 16.00.

Setiba di rumah, seorang bapak yang saya bawa dari Kupang menceritakan pengalaman perjalananan pertamanya ke Flores kali ini. Baginya, perjalanan ini diluar dugaan karena saya ajak secara tiba-tiba. Bapak tadi juga menceritakan tentang percakapannya dengan ibu yang duduk di sebelah saya ketika saya turun di pancuran dekat Wolorowa.

“Pak itu wartawan, ya?” Tanya ibu kepada Bapak tadi.

“Iya, ibu.”Jawab si Bapak singkat.

Saya hanya bisa tertawa lepas. Darimana ibu bisa menilai saya sosok seorang wartawan.

Setelah melakukan rangkain tugas di Mbay dan Mauponggo, saya harus kembali ke Kupang. Karena padatnya penerbangan, maka saya memesan tiket pulang hari Senin, 02 April 2012. Pesawat berangkat pukul 10.10. Check in pukul 09.00. Hari itu kami berangkat dari Mbay pukul 07.00. Harapannya kami tiba di Ende pukul 09.00. Adanya perbaikan jalan sepanjang Aegela-Nangaroro dan membludak pedagang, kendaraan, pembeli di pasar Nangapanda merupakan faktor keterlambatan kami tiba di Ende.

Tiba-tiba hp berdering.

“Kami dari Transnusa menginformasikan tidak lama lagi pesawat mau menderat. Pak posisi dimana?” terdengar suara di ujung telepon.

“Saya masih di Nangakeo, Bu.”Jawab saya panik.

Nangakeo-Ende berjarak 15 km – memakan waktu 15-20 menit perjalanan. Saya mulai panik takut ketinggalan pesawat. Sementara jam menunjukkan pukul 09.50. Sopir terus mengeber kendaraannya. Saya tidak henti-hentinya menghubungi agen transnusa untuk meyakinkan bahwa saya dalam perjalanan dan menanyakan informasi pesawat. Rasa gusar sirna, ketika taxi merapat di bandara sedangkan pesawat tumpangan belum juga mendarat. Saya pun mengelus dada lega.

Seperti biasa prosedur penerbangan, check ini, beli airpot tax dan masuk ke ruang tunggu. Tidak lama kemudian, sirene berbunyi panjang pertanda pesawat akan mendarat. Saya pun duduk sesekali bergaya di depan lensa.

Dalam perjalanan ke pesawat, seorang ibu mendekat lalu bertanya, “Adik pernah di Yogya, ya?”

“Iya, Ibu.” Jawab saya singkat. Pikiranku penasaran dengan ibu ini. Sepertinya dia mengenal saya dengan baik.

“Aduh bu, mungkin saya lupa. Ibu pernah di Yogja juga?” Saya berusaha menetralkan rasa penasaran.

“Ei..adik pasti sudah lupa e.” Ibu itu menyorong tangan memperkenalkan diri.

Setelah ibu tadi menyebutkan nama dan namanya suaminya, pikiran saya semakin dekat pada kebenaran pada apa yang saya duga sebelumnya. Tidak sungkan, saya pun menyapanya dengan sebutan “kaka”.

“Kaka sekarang kerja dimana?”

“Saya di DPRD Ende.”

“Barti anggota dewan, dong?”

“Iya. Saya sudah lima tahun di Ende.”

Percakapan pun berlanjut hingga di pesawat. Nostalgia tentang Yogja menjadi menu utama perjumpaan itu. Tiba-tiba seniorku bertanya lagi.

“Adik, wartawan di media mana sekarang?”

Saya agak terkejut dengan pertanyaan. Artinya sudah ada dua orang yang bertanya hal yang sama dalam perjalanan saya kali ini.

“Aduh, kaka saya bukan wartawan. Apakah mungkin potongan saya ini wartawan?”

“He…dulu sering liput di Yogya, khan?”

Saya semakin bingung. Kenyataan saya bukan wartawan.  Tapi, dalam hati saya berkata, “Iya, saya wartawan dari media babomoggi.com.” Hehehe…..(saya tertawa dalam bathin). Kemudian saya menjelaskan posisi saya yang sebenarnya. Percakapan berujung pada ranah politik. Lumayan juga mendapat pencerahan politik dari seorang kader partai politik besar. ***

 

Diam itu lebih baik
Merefleksikan diri daripada membela diri
Semantara kita tahu kita itu salah sendiri
Lebih baik menyalahkan diri sendiri, daripada melemparkan kesalahan
Lebih baik bangkit berdiri, daripada berlama-lama berkubang pada masalahSemakin kita emosi, semakin membuat jiwa bimbang
Kita terbakar api amarah
Lalu terperangkap dan terjerembab karma
Sesal pun terlambat datang
Mau apa jadinya kelakDunia maya bukan tempat yang tepat menumpahkan amarah
Mengobarkan api kebencian
Menaburkan permusuhan
Aplagi tempat mencaci

Dunia maya tak ubah sebuah neraka jika salah langkah
Menelantarkan jiwa jauh daripada kebahagiaan
Sistem kekerabatan sudah ada jauh sebelum dunia maya

Lebih baik balik berdamai
Tidak hanya dengan diri sendiri
Juga orang lain yang pernah peduli
Yang kita hakimi sebagai pencundang, pengkhianat, pendusta, atau apapun sebutan
Sebenarnya mereka begitu berarti
Ketika masalah mendera, mereka hadir di sisi

Awali titik balik
Mulai pada pekan suci ini
Supaya kita bisa berdamai dengan diri sendiri,
Orang lain, dan
Tuhan sendiri

Mari pinta Tuhan basuhkan diri
Seputih Kamis Putih
Seagung Jumat Agung
Semeriah Minggu Paskah

Lihatlah seperti langit, laut, pulau dan matahari
Harmonis membingkai senja hari yang damai

Kupang, 04 April 2012

April 5, 2012 | In: Cinta

Kau Hanya Ilusi

Bola mata indahmu
Kau sembunyikan di balik kaca matamuDi balik kacamatamu
Kau menatap tajamMenikam jantung lelaki berdenyut
Memicu nadi lelaki bergelayutRaga perkasa gemetar
Jiwa bergetar

Binar matamu memancarkan aura
Wajahmu bercahaya

Kecantikan rupamu tersaji
Memikat hati lelaki

Mungkin kau hanya ilusi
Mengusir sepi pria sejati

Biar kau pergi
Aku menikmati senja yang semakin sepi

Kupang, 04 April 2012

 

April 5, 2012 | In: Alam

Tuhan Ada Kini

Aku sendiri
Berdiri merenungi
Tentang diri, alam berserta isi

Tuhan mengintai
Melalui fajar pagi

Tuhan menyapa
Melalui angin yang menerpa

Tuhan melambai
Melalui dedaunan nyiur yang anggun melandai

Tuhan menjamah
Melalui percikan ombak yang memecah

Aku tidak sendiri
Tuhan ada di segala sisi

Kesendirian kutemukan diri
Keheningan kugapai imanjinasi

Menenangkan diri
Jalan menuju kesejatian diri

Kupang, 3 Maret 2012

*) Foto diambil saat menikmati fajar pagi di belakang LaPrima Hotel, tanggal 26 Maret 2012. Suasana pantai dan laut yang menakjubkan, segala pergulatan bathin terobati. Sungguh Tuhan hadir dalam segala rupa, melalui alam ciptannya.